Showing posts with label kalimantan barat. Show all posts
Showing posts with label kalimantan barat. Show all posts

Mar 5, 2008

Kalimantan or Borneo??

This article is taken from Ari


For Indonesians like me, "Kalimantan" is simply the name we use to call the entire island known in international world as "Borneo", just like how we call your "banana" as "pisang". But apparently, some people actually thought that "Kalimantan" as merely the name of the Indonesian part of the island. It's understandable that foreigners to have this way of thinking, but what disturbing is the fact that even few Indonesians thought the same way. So I think it's important for us to discuss about the origins of these names.

Borneo is a corruption of the word "Brunai" as the British tried to pronounce it. In time, they use that term to call the entire island even though the Sultanate of Brunai Darussalam covered only the northern part of the island. Colonial Dutch occupying part of the island in turn caught on calling the island as Borneo too, a name they took from their fellow colonialist, the British.

While Kalimantan is the name that is closer to us, the natives of Kalimantan. According to the history, while the Portuguese called the island as "Borneo", the natives called the island as "Pulo Klemantan". According to Crowfurd in Descriptive Dictionary of the Indian Island (1856), "klemantan" is the name of a sort of mango, he added that the name had a quality of a folk tale. While according to C. Hose and Mac Dougall "klemantan" came from the names of the local ethnic groups; Iban, Kayan, Kenyah, Klemantan, Munut and Punan. In Natural Man, a record from Borneo (1926), C. Hose explained that "klemantan" is a new name used by the Malay. W. H. Treacher had a different opinion, he thought that the name came from "Lamantah" which means raw sago. Lastly, Prof. Dr. Slamet Muljana in his book Sriwijaya had a theory that "Kalimantan" was derived from Sanskrit "kalamanthana" which means "an island so hot it burns".

A 1857 record says that in his correspondence with the Dutch Resident, Prince Tamjidillah of Banjar Kingdom referred to the island as "Kalimantan island" and not "Borneo island". This shows that even though the name Borneo was preferred by the Dutch Colonial government, the term Kalimantan was more popular among the natives.

Conclusion:
We could not do anything about how foreigners define "Kalimantan", the important thing is that we as Indonesians should realize that the term has always been used by the natives of Kalimantan and has a long history. Thus, we have the obligation to use it correctly. Now I don't understand why Malaysians stick to the name given byt heir colonialist, nor do I want to force English speaker to change the way they call the island, and I couldn't even do it if I wanted to.

We can't force them to call "Cologne" as "Koln", or "Greenland" as "Kallaalit Nunnaat", so I can't expect them to change for us too. Let's just call the island according to our own ways, but with it'd be nice if they acknowledge that "Kalimantan" is Indonesians' way of calling the whole island.

On the side note, though. There are few languages that refer to the island as "Kalimantan" rather than "Borneo", and I really appreciate them! Some examples: Eesti, Иронау, and Русский.

Feb 27, 2008

Pelatihan Kode Etik dan Strata Arsitek IAI Daerah Kalimantan Barat

Pelatihan Kode Etik dan Strata Arsitek
IAI Daerah Kalimantan Barat

Perkembangan dunia jasa konstruksi saat ini mensyaratkan tenaga ahli di bidang konstruksi harus memiliki kompetensi. Tak dapat dihindari, arsitek sebagai salah satu tenaga ahli di bidang konstruksi pun mau tidak mau harus memiliki kompetensi tersebut. Apalagi UU jasa konstruksi telah mengeluarkan aturan yang mengharuskan tiap konsultan maupun kontraktor untuk mensertifikasi tenaga ahlinya.
IAI sebagai organisasi induk arsitek punya kewajiban untuk membina arsitek untuk memperoleh kompentensi yang diharapkan oleh UU jasa konstruksi. Oleh karena itu IAI mengeluarkan sertifikasi keahlian di bidang arsitektur untuk para arsitek. Untuk mendapatkan sertifikasi tersebut, ada tahapan yang harus dilalui oleh arsitek. Tahapan tersebut pertama-tama adalah menjadi anggota mitra IAI. Kemudian mengikuti pelatihan kode etik arsitek, dan minimal mengikuti dua pelatihan strata arsitek.
Melihat akhir-akhir ini permintaan akan kebutuhan arsitek bersertifikasi meningkat dengan disyaratkannya sertifikasi untuk penangungjawab tiap bidang pekerjaan konstruksi di Kalbar, maka IAI Daerah Kalimantan Barat akan mengadakan pembukaan pendaftaran anggota mitra IAI, diiringi dengan pelatihan Kode Etik dan pelatihan strata yang rencananya akan diadakan pada tanggal 25-26 April 2008. Kegiatan ini juga menjadi rangkaian dengan kegiatan Sayembara RTBL koridor jembatan Kapuas II yang saat ini telah dibuka pendaftarannya. Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi Sekretariat IAI Daerah Kalbar, Jl. S.Parman Dalam No.7 Telp/Fax (0561) 738401. Yudhiarma (yudhi_073@yahoo.com) Sekretaris II IAI Daerah Kalbar

Feb 25, 2008

Rumah Panjang di Desa Natai Panjang

Rumah panjang adalah salah satu warisan dari suku dayak yang banyak terdapat di pulau Kalimantan. di Desa Natai Panjang, Kecamatan Tumbang Titi, Kabupaten Ketapang, Propinsi Kalimantan Barat, terdapat salah satu rumah panjang yang masih berdiri dengan baik.
Ini adalah foto yang saya ambil di lokasi tersebut. Penuh perjuangan loh sampai kesini... dari Pontianak ke Ketapang menggunakan kapal feri cepat dengan waktu tempuh kurang lebih 6 jam. Kemudian dari Ketapang ke desa Natai Panjang berjarang sekitar 150 km, tapi waktu tempuhnya 4 jam!! Dan tentu saja hanya bisa menggunakan motor karen jalannya ancur abis!! Saya sempat jatuh sampai paha saya biru lebam, dan ga bisa jalan beberapa hari.... Tapi semua menjadi kenangan yang indah buat saya :)




Menurut keterangan penduduk setempat, ini adalah rumah asli desa natai panjang, kecamatan tumbang titi. Saat kami datang kesana, bangunan ini sudah rata dengan tanah. Penduduk desa ingin sekali rumah ini dibangun kembali agar dapat dijadikan warisan untuk anak cucu mereka kelak, bahwa desa mereka masih mempunyai rumah panjang. Foto ini di repro dari foto lama. Klo ga salah difoto oleh orang Belanda misionaris. Tahunnya gak jelas. Anehnya foto ini dari postcard Belanda ^^;




Ini rumah di desa sebelah, lupa namanya. Tapi rumah ini kurang lebih sama dengan rumah di desa natai panjang. Hanya ornamennya saja yang agak berbeda.




Ini tampak sampingnya....




Bangunan di samping ini adalah bangunan tambahan. Fungsinya adalah sebagai tempat penyimpanan hasil pertanian dan kebun.




Tidak seperti Rumah Betang (rumah yang melebar), Rumah Panjang Natai Panjang dibuat memanjang kebelakang. Selain itu berbeda dengan Rumah Betang yang bisa dihuni sampai 100 kepala keluarga, Rumah Natai Panjang ini hanya digunakan oleh satu keluarga. Interior nya luas karena tidak banyak elemen interior di dalamnya.




Bapak ini adalah pemilik rumah di desa nantai Panjang. Beliau tidak bisa berbahasa Indonesia, sehingga kami sulit menanyakan namanya.... Saat kami pulang, kami meberikan sejumlah uang karena telah memperbolehkan kami untuk mengambil foto rumahnya :) Bapak ini ramah loh walaupun kami saling tidak mengerti bahasa masing2 ^^;




Ini adalah 3D rebuild rumah natai panjangnya...










Feb 12, 2008

Terenyuh....dunia pendidikan Kalimantan Barat yang menyedihkan....


Foto di atas diambil dari website bang Akim, pinjem yah bang :D

Tadi siang saya membaca blog dari Bang Akim yang menceritakan bagaimana kondisi pendidikan di daerah pedalaman Kalimantan Barat. blog nya ada di sini....

Cerita di blog bang akim tadi hanya merupakan satu gambaran betapa menyedihkan nya kondisi pendidikan di Kalimantan Barat. Saya sebagai pendidik merasa terenyuh dengan kondisi pendidikan indonesia, terutama Kalbar yang terpuruk..
saat penerimaan mahasiswa baru di kampus saya, saya merasa prihatin dengan perbedaan yang mencolok antara anak daerah dan anak kota. anak kota biasanya lebih antusias dan mengerti apa yang diajarkan. sedangkan yang dari daerah kadang2 perlu waktu yang agak lama untuk menyerap, bahkan cenderung tidak mampu... Saya yang mengajar aplikasi komputer arsitektur kadang2 bingung mencari cara untuk mengajarkan ilmu saya. Maklum, software yang diajarkan gak pake bahasa Indonesia, tapi pake English. Itu baru bahasanya.... belum komputernya. Sebelum saya mulai mengajar di hari pertama, saya selalu bertanya kepada mahasiswa saya, apakah ada yang belum pernah memegang komputer? Biasanya ada saja sekitar 2-3 mahasiswa yang gak pernah sama sekali menyentuh komputer, terutama dari daerah yang jauh dari kota dan tidak mengenal apa itu komputer. Akhirnya saya harus kasih privat lebih ke mereka agar mereka lebih akrab dengan komputer. Ya...mau ga mau.. Menggunakan komputer saat ini sudah harus menjadi kompetensi dari lulusan arsitektur.
Saat saya berjalan ke arah hulu mau pun ke arah selatan, saya melihat banyak sekolah yang siswanya hanya bermain2 di lapangan. kemana gurunya? gurunya cuma 1...sedih...
ingin rasanya saya mengajar mereka, tapi saya juga punya kewajiban di kota...mudah2an ada diantara mahasiswa saya yang tergerak mengajar mereka, walaupun mahasiswa saya bukan di didik untuk mengajar....
Wahai para pemimpin di atas sana..... gimana bangsa ini mau maju? Kalo waktu para siswa yang ingin sekolah hanya habis berjam2 di jalan untuk pergi ke sekolah, jalan kaki lagi?? Dimana waktu mereka untuk belajar?? Sementara untuk pulang sekolah mereka harus menunggu motor pepet selama berjam2?? Jangan hanya sekolah di kota2 saja yang dimajukan, sekolah di kampung terpencil juga harus diperhatikan....... Bagaimana pun mereka lah yang akan menggantikan posisi anda anda sekalian di masa depan. Pikirkan lah nasib mereka....